Maluku Go Global, Perikanan dan Rempah Jadi Magnet Investasi
- admin

Media Center Maluku, Cibubur – Pemerintah Provinsi Maluku terus membuka peluang investasi seluas-luasnya bagi dunia usaha dan investor internasional untuk mengembangkan berbagai potensi ekonomi daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Pemerintah Provinsi Maluku dalam Forum Harmony Indonesia 1881 yang digelar di Hotel Artotel Living World, Cibubur, Bogor, Selasa (18/8/2026).

Sambutan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LLM., yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan, Umar Alhabsy, menegaskan bahwa Maluku memiliki potensi strategis yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru, baik di tingkat nasional maupun global.
Forum yang digagas Africa, Asia Middle East Chamber of Commerce (AAMECC) Indonesia dengan tema “Sinergitas Global, Kearifan Lokal untuk Indonesia Emas” tersebut mempertemukan sejumlah tokoh nasional dan internasional. Hadir di antaranya Ketua DPD RI, Deputi Otorita IKN, Deputi Bidang Polhukam Sekretariat Kabinet, Direktur Jenderal Kebudayaan, para raja, sultan dan pemimpin adat se-Nusantara, serta pelaku usaha dari kawasan Afrika, Asia dan Timur Tengah.
Dalam forum tersebut, Pemprov Maluku memperkenalkan karakter dan keunggulan daerah sebagai provinsi kepulauan yang menjadikan laut sebagai ruang hidup sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Maluku memiliki wilayah sekitar 712.498 kilometer persegi, dengan 93,5 persen di antaranya merupakan perairan. Wilayah tersebut terdiri atas 1.422 pulau dengan garis pantai mencapai 10.914 kilometer.
Kondisi geografis tersebut menjadi modal besar bagi pengembangan ekonomi berbasis kelautan, pertanian, pariwisata dan energi terbarukan.
Salah satu sektor yang ditawarkan kepada investor adalah kelautan dan perikanan. Potensi perikanan Maluku berada pada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP 714, 715 dan 718 yang mencakup Laut Banda, Laut Arafura dan Laut Seram.
Komoditas tuna, cakalang dan tongkol menjadi salah satu kekuatan utama perikanan Maluku. Namun, peluang investasi tidak hanya terbuka pada sektor perikanan tangkap. Potensi budidaya laut juga masih sangat luas, mencapai sekitar 158 ribu hektare, sementara pemanfaatannya baru sekitar 3.816 hektare.
“Peluang investasi terbuka pada sektor pengolahan, cold chain, pengalengan dan penerapan teknologi modern,” demikian disampaikan dalam paparan Pemerintah Provinsi Maluku.
Selain perikanan, sektor pertanian dan rempah juga menjadi peluang investasi yang ditawarkan. Identitas Maluku sebagai Kepulauan Rempah melalui komoditas pala dan cengkeh diarahkan tidak sekadar menjadi warisan sejarah, tetapi dikembangkan menjadi kekuatan industri bernilai tambah.
Penguatan standardisasi mutu, branding, hilirisasi dan pengembangan berbagai produk turunan diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pasar ekspor komoditas Maluku.
Peluang investasi juga terbuka di sektor pariwisata bahari dan cagar budaya. Destinasi seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ora, Ngurbloat, Ngurtafur dan Pulau Bair menjadi aset wisata yang memiliki daya tarik bagi pasar internasional.
Investasi dapat diarahkan pada pembangunan akomodasi, pengembangan transportasi antarpulau hingga pengembangan desa wisata berbasis masyarakat.
Sementara itu, karakteristik Maluku sebagai wilayah kepulauan juga membuka peluang besar bagi pengembangan energi terbarukan. Potensi tersebut mencakup tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, panas bumi hingga energi laut.
Dalam kesempatan yang sama, Pemprov Maluku turut memaparkan sejumlah proyek strategis yang menjadi bagian dari transformasi ekonomi daerah, seperti pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub, pengembangan Pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta program hilirisasi pala dan kelapa.
Menurut isi paparan Gubernur yang disampaikan Umar Alhabsy, proyek-proyek strategis tersebut harus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat dan tidak berhenti pada pembangunan fisik semata.
“Jadi untuk proyek strategis tidak boleh berhenti sebagai proyek fisik semata, melainkan harus menjadi pengungkit terbentuknya rantai nilai, lapangan kerja baru, industri lokal, UMKM yang kuat, serta menghubungkan Maluku dengan pasar nasional maupun global,” tegasnya.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku mengajak investor global membangun kemitraan yang inklusif dan berkelanjutan. Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui forum internasional tersebut, Maluku ingin menegaskan bahwa potensi daerah tidak lagi sekadar menjadi kekayaan alam yang belum tergarap, tetapi dapat ditransformasikan menjadi rantai ekonomi bernilai tinggi yang terhubung dengan pasar nasional dan global. (Diskominfo Maluku)